Revolusi Mental Bukan Sekedar Kerja Nyata

Kemarin (17/08) merupakan hari membahagiakan bagi seluruh rakyat Indonesia. Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) adalah momen bersejarah bagi bangsa ini. Ntah apakah ini sudah menjadi budaya atau karena memang kecintaan kita kepada negeri ini. Seluruh lorong-lorong kampung menjelang peringatan HUT RI banyak diisi kegiatan tasyakuran dan perenungan. Belum lagi dekorasi dan kegiatan lainnya dalam rangka menyambut momen bersejarah ini.

Kebetulan sebagai seorang warga sekaligus karyawan saya mendapat dua materi sambutan, pertama dari ketua RT dan RW, sambutan lainnya tentu yang disampaikan saat upacara peringatan HUT RI di tempat kerja. Ada yang menggelitik dalam benak saya, sekaligus bersyukur ternyata disaat pemerintah yang menggembor-gemborkan inovasi, kreativitas, penelitian, dan impian-impian membuai lainnya justru di kampung saya mendapat siraman rohani yang begitu bermakna. Tidak ada yang salah dengan impian besar, karena melalui impian besarlah negara akan menjadi besar. Tetapi jika dianalogikan sebuah rumah, untuk bisa membangun rumah megah dan mewah diperlukan pondasi dan perencaan yang tepat. Sama halnya negara, sekeras apapun kita berusaha, kreatif, inovatif, tetapi kalau semua karya lahir bukan dengan niat baik dan selalu dibarengi hal-hal buruk karena sikap mental yang buruk, sia-sialah semua jerih payah yang dilakukan.

Materi peringatan di kampung sebenarnya sangat sederhana, tetapi langsung mengena sasaran, ibarat seorang snipper cuman butuh satu peluru untuk bisa menyelesaikan banyak hal. Okelah kita saat ini sedang bersusah payah berkompetisi dengan dunia luar apalagi ketakutan adanya pasar bebas. Tetapi kita lupa ‘borok’ kita terbesar bukan karena kita ‘bodoh’ atau tidak ‘kreatif’, melainkan mental kita yang sudah sangat  bobrok.

Dalam materi yang diberikan di kampung, saya masih melihat sosok-sosok calon generasi muda yang santun dan cerdas. Mereka masih menerapkan bagaimana seharusnya meyapa orang yang lebih dewasa, bagaimana cari berkomunikasi dengan orang yang lebih dewasa, bagaimana cara berperilaku yang santun, dan masih banyak nilai-nilai positif yang diberikan dalam ceramah pak RT. Tiap tahun pemerintah selalu punya tema yang selalu diusung setiap HUT RI, revolusi mental sebenarnya sudah pernah digagas, tapi sayang menurut saya isensinya belum tersentuh. Sehingga program dan spirit-spirit baru yang didengungkan tidak memiliki fondasi yang kuat.

Tiadalah guna ilmu setinggi langit tetapi jika tidak bisa membumi. Apalah guna kecerdasan jika tidak bisa bermanfaat untuk orang lain. Banyak contoh nilai-nilai budaya kita yang sudah tergerus habis bahkan sudah sampai tahap kritis. Dulu kita dikenal sebagai bangsa yang santun, sopan, dan ramah, sekarang? Saya tidak perlu memberi contoh kongkrit, buktikan saja sendiri saat keluar rumah.

Inilah yang menjadi keprihatinan saya sebagai generasi X (GenX), yang masih ‘menangi’ masa peralihan generasi Baby Boomers dan GenY. Tanpa bermaksud mengguri, kita tidak bisa menyalahkan siapapun atas terjadinya degradasi moral ini. Toh sekarang yang duduk di elit negara juga campuran dari tiga Gen tersebut. Sudah saatnya kita semua berkaca. ‘Ndeleng Jithoke Dewe’ (melihat tengkuk masing-masing). Mari, jika kita perduli bangsa ini mulailah sadar diri, introspeksi diri, dan jadikan generasi kita generasi emas, yaitu tangguh, kreatif, inovatif, dan tentunya tetap menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila dan berbudi pekerti luhur.

Hidup itu simpel, hanya kita sendirilah yang membuatnya rumit.
Revolusi Mental Bukan Sekedar Kerja Nyata.
Doa untuk negeriku, semoga makin jaya dan sakti.