That’s why I love Indonesia

That’s why I love Indonesia

Tidak ada alasan untuk tidak Cinta Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sampai kapanpun. Inilah bukti kenapa Indonesia seharusnya ditakuti, disegani, dan di’buru’ oleh orang-orang tidak bertanggung jawab yang telah menelantarkan bumi pertiwi. I Love You Indonesia. Indonesia Negara Terkaya Di Dunia. Banyak sebenarnya yang tidak tahu di manakah negara terkaya di planet bumi ini, ada yang mengatakan Amerika, ada juga yang mengatakan negera-negara di timur tengah. Tidak salah sebenarnya, contohnya Amerika, negara super power itu memiliki tingkat kemajuan teknologi yang hanya bisa disaingi segelintir negara. Contoh lain lagi adalah negara-negara di timur Tengah. Rata-rata negara yang tertutup gurun pasir dan cuaca yang menyengat itu mengandung jutaan barrel minyak yang siap untuk diolah. Tapi itu semua belum cukup untuk menyamai negara yang satu ini, bahkan Amerika. Negara-negara timur tengah serta Uni Eropa-pun tak mampu menyamainya. Dan inilah negara terkaya di planet bumi yang luput dari perhatian warga bumi lainya. Warga negara ini pastilah bangga jika mereka tahu, tapi sayangnya mereka tidak sadar “berdiri di atas berlian” langsung saja kita lihat profil negaranya. Negara terkaya di planet bumi dan terletak di jalur Khatulistiwa ini namanya “INDONESIA”. Wooww… Apa yang terjadi? apakah penulis (saya) salah? tapi dengan tegas saya nyatakan bahwa negara itulah sebagai negara terkaya di dunia. Tapi bukankah negara itu sedang dalam kondisi terpuruk? hutang dimana-mana, kemiskinan, korupsi yang meraja lela, kondisi moral bangsa yang kian menurun serta masalah-masalah lain yang sedang menyelimuti negara itu. Berikut 7 Bukti Nyata Bahwa Indonesia Adalah Negara Terkaya Di Dunia, yaitu: 1. Negara Indonesia Ini Punya Pertambangan Emas Terbesar Dengan Kualitas Emas Terbaik Di Dunia. Namanya PT Freeport Apa saja kandungan yang di tambang di Freeport? ketika pertambangan ini dibuka hingga sekarang, pertambangan ini telah mengasilkan 7,3 JUTA ton tembaga dan 724,7 JUTA ton emas. saya (penulis= suranegara) mencoba meng-Uangkan jumlah tersebut dengan harga per gram emas sekarang, saya anggap Rp. 300.000. dikali 724,7 JUTA ton emas/ 724.700.000.000.000 Gram dikali Rp 300.000. = Rp.217.410.000.000.000.000.000 Rupiah!!!!! ada yang bisa bantu saya cara baca nilai tersebut? itu hanya emas belum lagi tembaga serta bahan mineral lain-nya. Lalu siapa yang mengelola pertambangan ini? bukan negara ini tapi AMERIKA! prosentasenya adalah 1% untuk negara pemilik tanah dan 99% untuk amerika sebagai negara yang memiliki teknologi untuk melakukan pertambangan disana. bahkan ketika emas dan tembaga disana mulai menipis ternyata dibawah lapisan emas dan tembaga tepatnya di kedalaman 400 meter ditemukan kandungan mineral yang harganya 100 kali lebih mahal dari pada emas, ya.. dialah URANIUM! bahan baku pembuatan bahan bakar nuklir itu ditemukan disana. Belum jelas jumlah kandungan uranium yang ditemukan disana, tapi kabar terakhir yang beredar menurut para ahli kandungan uranium disana cukup untuk membuat pembangkit listrik Nuklir dengan tenaga yang dapat menerangi seluruh bumi hanya dengan kandungan uranium disana. Freeport...

Read More

ANTRI, Kunci Segalanya?

ANTRI, Kunci Segalanya?

Seorang guru di Australia pernah berkata: “Kami tidak terlalu khawatir jika anak2 sekolah dasar kami tidak pandai Matematika” kami jauh lebih khawatir jika mereka tidak pandai mengantri.” “Sewaktu ditanya mengapa dan kok bisa begitu ?” Kerena yang terjadi di negara kita justru sebaliknya. Inilah jawabannya: Karena kita hanya perlu melatih anak selama 3 bulan saja secara intensif untuk bisa Matematika, sementara kita perlu melatih anak hingga 12 Tahun atau lebih untuk bisa mengantri dan selalu ingat pelajaran berharga di balik proses mengantri. Karena tidak semua anak kelak akan berprofesi menggunakan ilmu matematika kecuali TAMBAH, KALI, KURANG DAN BAGI. Sebagian mereka anak menjadi Penari, Atlet Olimpiade, Penyanyi, Musisi, Pelukis dsb. Karena biasanya hanya sebagian kecil saja dari murid-murid dalam satu kelas yang kelak akan memilih profesi di bidang yang berhubungan dengan Matematika. Sementara SEMUA MURID DALAM SATU KELAS ini pasti akan membutuhkan Etika Moral dan Pelajaran Berharga dari mengantri di sepanjang hidup mereka kelak. ”Memang ada pelajaran berharga apa dibalik MENGANTRI ?” ”Oh iya banyak sekali pelajaran berharganya;” Anak belajar manajemen waktu jika ingin mengantri paling depan datang lebih awal dan persiapan lebih awal. Anak belajar bersabar menunggu gilirannya tiba terutama jika ia di antrian paling belakang. Anak belajar menghormati hak orang lain, yang datang lebih awal dapat giliran lebih awal dan tidak saling serobot merasa diri penting.. Anak belajar berdisiplin dan tidak menyerobot hak orang lain. Anak belajar kreatif untuk memikirkan kegiatan apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi kebosanan saat mengantri. (di Jepang biasanya orang akan membaca buku saat mengantri) Anak bisa belajar bersosialisasi menyapa dan mengobrol dengan orang lain di antrian. Anak belajar tabah dan sabar menjalani proses dalam mencapai tujuannya. Anak belajar hukum sebab akibat, bahwa jika datang terlambat harus menerima konsekuensinya di antrian belakang. Anak belajar disiplin, teratur dan kerapihan. Anak belajar memiliki RASA MALU, jika ia menyerobot antrian dan hak orang lain. Anak belajar bekerjasama dengan orang2 yang ada di dekatnya jika sementara mengantri ia harus keluar antrian sebentar untuk ke kamar kecil. Anak belajar jujur pada diri sendiri dan pada orang lain. dan mungkin masih banyak lagi pelajaran berharga lainnya, silahkan anda temukan sendiri sisanya. Saya sempat tertegun mendengarkan butir-butir penjelasannya. Dan baru saja menyadari hal ini saat satu ketika mengajak anak kami berkunjung ke tempat bermain anak Kids Zania di Jakarta. Apa yang di pertontonkan para orang tua pada anaknya, dalam mengantri menunggu giliran sungguh memprihatinkan. Ada orang tua yang memaksa anaknya untuk ”menyusup” ke antrian depan dan mengambil hak anak lain yang lebih dulu mengantri dengan rapi. Dan berkata ”Sudah cuek saja, pura-pura gak tau aja !!” Ada orang tua yang memarahi anaknya dan berkata ”Dasar Penakut”, karena anaknya tidak mau dipaksa menyerobot antrian. Ada orang tua yang menggunakan taktik dan sejuta...

Read More

Nikmati, Hargai, dan Syukuri

Nikmati, Hargai, dan Syukuri

Kontemplasi dan Refleksi Diri Ada seorang pria bermain biola di stasiun kereta api bawah tanah di Washington. Ia memainkan 6 karya gubahan Sebastian Bach selama satu jam. Selama itu pula, ada sekitar 2.000 orang mondar-mandir melewatinya. Sebagian besar adalah mereka yang berangkat ke kantor masing-masing. Di 3 menit pertama, ada seorang paruh baya memperhatikan permainannya. Ia memperlambat jalannya dan berhenti sesaat untuk melihatnya bermain. Tapi kemudian ia bergegas untuk melanjutkan perjalanannya. Empat menit kemudian, seorang wanita melemparkan uang $1 kepadanya tanpa berhenti dan tetap meneruskan langkahnya. Enam menit kemudian, seorang anak muda merapat untuk mendengarkan permainannya. Tapi tak berapa lama, anak muda tadi memperhatikan arlojinya, lalu beranjak pergi. Sepuluh menit kemudian, seorang anak kecil berusia 3 tahun berhenti memperhatikannya bermain. Namun ibunya menarik anak itu untuk bergegas melanjutkan perjalanan. Anak kecil itu masih menoleh dan memperhatikannya bermain, namun ibunya menariknya kembali dan memaksanya untuk berjalan. Kejadian ini terjadi berulang kali pada setiap anak kecil yang melintasinya. Empat puluh lima menit kemudian, pria tadi masih tetap bermain biola. Total hanya 6 orang yang berhenti sejenak dan mendengarkannya bermain. Sekitar 20 orang memberinya koin tapi langsung lewat begitu saja. Pria tadi akhirnya berhenti bermain setelah satu jam. Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada orang yang memperhatikannya. Ia hanya mengumpulkan tak lebih dari $32 saja. Tak ada orang yang tahu bahwa pria yang bermain biola tadi adalah Joshua Bell, salah seorang musisi terhebat di dunia. Ia memainkan salah satu karya tersulit yang pernah ditulis oleh komposer dunia dengan biola yang berharga lebih dari $3,5 juta. Itu terjadi di bulan Januari 2007. Dua hari sebelum Joshua bermain, tiketnya ludes terjual di Boston. Ini adalah eksperimen sosial yang dilakukan oleh The Washington Post untuk menilai persepsi, selera, dan prioritas dalam hidup manusia. Ada pelajaran menarik yang bisa kita ambil di sini. Seringkali kita merasa sudah bekerja keras, melakukan banyak hal, mengambil lembur dan overtime, tapi tetap saja we are getting nowhere. Seperti berlari di atas treadmill, kita sering merasa sudah lelah menggerakkan kaki, tapi begitu kita lihat sekeliling kita, ternyata kita masih berdiri di tempat yang sama. Kadang kita merasa sudah membanting tulang sampai remuk redam, tapi begitu dicek, saldo tabungan kita tetap segitu-segitu saja. Kita tergesa-gesa. Kita terlambat menghadiri janji. Kita ada meeting. Kita merasa lelah dan stress. Jadwal kita penuh dan padat tak bersisa. Tapi apakah benar kita mengerjakan apa yang seharusnya kita kerjakan? Kalau kita sudah merasa mengejar apa yang memang seharusnya kita kerjakan, pernahkah kita mencoba untuk menikmati, menghargai, dan mensyukuri apa yang sudah kita peroleh selama ini?   Sumber:...

Read More
Page 10 of 12« First...89101112

Join With My Social Activity

Visit Us On TwitterVisit Us On FacebookVisit Us On Google PlusVisit Us On LinkedinCheck Our Feed