Antara Teknologi, Kemanusiaan, Bisnis, dan Keyakinan

ANTARA TEKNOLOGI, KEMANUSIAAN, BISNIS, DAN KEYAKINAN

Isu-isu terhangat di belahan dunia manapun saat ini tak jauh dari teknologi, kemanusiaan, bisnis, dan keyakinan. Saya tidak akan membas lebih jauh terkait keyakinan, karena akan berpotensi menimbulkan gesekan atau ketidak sepahaman keyakinan.

Sejujurnya saya bukanlah expert di bidang-bidang yang saya bahas ini, tapi tidak ada salahnya untuk sekedar beropini dari sudut pandang pribadi dengan melihat fenomena yang makin ‘lucu’ dan ‘menggelitik’ benak saya.

 

TEKNOLOGI

Berbicara tentang teknologi memang tidak ada habisnya, tiap jam, bahkan tiap detik selalu memunculkan hal-hal baru, karena begitulah memang adanya teknologi yang ‘mengagungkan’ inovasi, perubahan, dan serba cepat.

Dalam banyak perbincangan, teknologi sudah menjadi gaya hidup, bahkan ada yang sudah menganggap ‘kebutuhan’. Kondisi nyata ini memberi dampak terhadap perilaku manusia pada umumnya, cara befikir, berperilaku, bersosialisasi, dan banyak hal lainnya.

Munculah istilah-istilah ‘asing’ dengan bahasa-bahasa khas gen X, Y, Z. Generasi inilah yang sebagian besar menghuni era sekarang. Sejak lahir mereka sudah disuguhi namanya gadget, beberapa dari mereka memang tidak tahu apa itu gasing, bagaimana main bagsodor, kelereng, dan nilai-nilai yang terkandung dalam permainan tersebut.

Saya sebagai gen x tentu masih ‘menangi’ transisi dari tiga generasi itu, sehingga bisa mengaitkan perubahan-perubahan yang terjadi selama periode tersebut.

Teknologi memang selalu menjadi kontroversi dengan segala manfaat, kelebihan, dan kekurangannya. Manusialah yang seharusnya pegang kendali, bukan teknologinya.

 

TEKNOLOGI DAN KEYAKINAN

Teknologi memberi peran signifikan terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, berbagai referensi keilmuan bisa didapatkan dengan mudah. Tapi harus waspada, sumber yang tidak tepat malah bisa menjerumuskan dan menyesatkan seseorang ke dalam pemahaman yang salah terhadap sesuatu hal. Di sinilah peran manusia menjadi sangat sentral, harus pandai memfilter informasi-informasi yang mengatasnamakan agama, ras, atau golongan tertentu dengan dalih kebenaran mutlak.

Allah SWT memberi manusia hati dan kecerdasan, gunakanlah itu sebaik mungkin. Belajarlah ilmu sebanyak-banyaknya, tetapi ilmu yang manfaat, yang bisa memberi kebaikan. Jangan serta merta memahami dan menelan sesuatu mentah-mentah, cari berbagai rujukan, jika pada akhirnya memberi dampak negatif, tinggalkan. Yang jelas rujukan di internet tidak semuanya benar. Terpenting, JANGAN MENJADI MANUSIA INSTAN, INGEN SERBA CEPAT. Nanti jadi manusia karbitan.

 

TEKNOLOGI DAN KEMANUSIAAN

Benarkah teknologi berdampak terhadap nilai-nilai kemanusiaan? Betul sekali, adanya teknologi banyak memunculkan kelompok-kelompok berbasis kemanusiaan. Lalu adakah dampak positif, tentu saja ada, melalui komunikasi di berbagai media, kopi darat, dan aktivitas sosial media menjadi cara ampuh untuk menggalang dana atau bakti sosial bagi saudara-saudara kita yang butuh uluran tangan. Aktivitas konservasi juga terjadi di banyak daerah, bahkan bisa sampai tingkat dunia.

Lalu adakah dampak kemanusiaan lain selain nilai-nilai positif tadi? Ada juga, muncul golongan-golongan radikal dan ekstrimis. Ujungnya banyak sekali tindakan kekerasan yang melegalkan berbagai macam cara untuk suatu tujuan tertentu. Timbulah banyak kriminalitas, pembunuhan biadab, perlakuan yang tidak manusiawi, dan bentuk-bentuk tindakan negatif lainnya.

Pada akhirnya, keimanan, keilmuan, dan latar belakang manusianyalah yang akan menentukan. Makanya belajar, membaca, dan telaah dengan hati yang bersih serta kepala dingin. Jangan mudah terprovokasi. Dunia sudah menjukkan tanda-tanda akhir zaman.

 

TEKNOLOGI, KEMANUSIAAN, DAN BISNIS

Ketiganya saling memberi peran penting satu sama lain. Dalam beberapa riset bisnis, khususnya yang berkaitan dengan perilaku manusia, aktivitas merek, strategi pemasaran, selling, layanan, dan leadership, mencoba mengaitkan ketiganya menjadi bauran program kampanye yang ampuh.

Dalam catatan saya, tiga hal yang menjadi isu krusial, youth, technology, dan humanity, meskipun adalah satu elemen lagi, yaitu wanita. Industri melakukan pendekatan yang lebih ‘manusia’ baik di lini produk maupun model kampanye periklanannya. Mereka tidak sungkan meng-endorse artis-artis muda untuk produk mereka. Brand harus bisa mengerti apa keinginan pelanggan. Brand harus menjadi bagian dari kehidupan pelanggan. Brand harus bisa menjadi teman. Brand harus bisa memberi manfaat kepada lingkungan.

Bukti terakhir yang patut dicermati adalah film-film yang belakangan release, syarat dengan pesan kemanusiaan. Star Wars, Revenant, terakhir Superman v Batman. Mungkinkan orang baik kian hari kian sedikit, semoga kita termasuk golongan orang-orang baik yang terpilih.

Alhamdulillah … Akhirnya bisa nulis lagi.

 

HIDUP ITU BUKAN SEMATA MELIHAT UNTUNG RUGI
HIDUP ITU BERBAGI, BERBAGI KEBAIKAN, KEBAHAGIAAN
HIDUP ITU SALING PERDULI, BERKONTRIBUSI
HIDUP ITU NIKMAT YANG HARUS DISYUKURI
SANGATLAH MERUGI JIKA HIDUP HANYA LEWAT TANPA MAKNA